Friday, 18 January 2013

Kenapa Harus Dirinya


       Cinta, satu kata penuh makna yang terkadang membawaku ikut terbuai olehnya. Perasaan yang muncul begitu saja, sungguh membuatku tak percaya akan hadirnya cinta. Aku tahu usiaku belum cukup untuk menyadari bahwa ada rasa cinta di hatiku. Tapi, aku tak dapat menahan perasaan itu, apalagi untuk tidak memikirkannya.
        Aku memang sudah mengenalnya lama, sejak aku menjajaki pakaian putih biru. Dia kakak kelasku, bahkan dia pernah menjadi mentorku. Perasaan itu muncul ketika itu dan mulailah aku mengenalnya semakin mendalam. Dia tampan, baik hati, perhatian, dan cowok yang sangat sederhana. Dia adalah Ray.
        Aku ingat ketika dia memanggilku “Pipit” bukan “Annisa”. Hanya karena badanku yang kecil, dia memanggilku dengan sebutan itu.  Alasan yang tidak masuk akal tapi sangat membahagiakanku. Dan aku pun ingat pertama kali aku dan dia berinteraksi. Semua ingatan itu, membuatku tak bisa tidur.

*****
Ketika aku melamunkan dirinya dan asyik menatapi langit-langit kamarku, aku tersontak kaget oleh deringan handphoneku. Dengan cepat aku mengambilnya. Ternyata, Kak Ray lah yang membangunkan handphoneku.
        “Halo!” jawabku dengan lembut.
        “Halo juga Pipit!”
“Ada apa, kak? Kok tumben meneleponku, biasanya juga hanya sms. Hehehe…” kataku diikuti dengan tertawa kecil.
“Boleh keluar sebentar nggak, Pit?” tanyanya.
“Emangnya ada apa ngajakin keluar malam-malam gini, kak?” kataku penasaran.
“Nanti kamu juga tahu sendiri kok.”
“Baiklah, dimana kakak mau bertemu denganku?” tanyaku.
“Di depan gang rumahmu saja, mau kan?”
“ Iya, jam berapa?”
“Mmm.. Pokoknya kamu tunggu saja, nanti kalau aku sudah sampai di depan gang rumahmu, aku akan langsung memberi kabar.” jawabnya.
“Sipp deh kalau gitu!”
“Oke, udah dulu ya? Bye Pipit.”
“Iya, Bye kak.”
Setelah teleponnya ditutup, aku terus menggenggam handphoneku. Jantungku mulai berdegup kencang menunggu kabar darinya. Otakku terus berpikir, apa yang akan dia katakan kepadaku? Baru kali ini, aku benar-benar gugup untuk bertemu dengannya.
        Handphoneku terbangun, pertanda ada pesan masuk. Ku buka pesan itu yang ternyata pesan dari Kak Ray. Dia menyuruhku untuk cepat menghampirinya di depan gang rumahku. Aku buru-buru berlonjak dari posisi dudukku dan berlari kecil menghampirinya.
Aku sekarang sudah dapat melihat dia menungguku di sana. Langkahku kini melambat. Kakiku tak sanggup untuk melangkah lagi. Jantungku berdegup semakin kencang. Tapi tanpa disadari aku sudah berada di hadapannya.
“Hey!” sapanya dengan senyuman menawan.
“Hey juga kak!” balasku. “Ada apa menyuruhku datang ke sini, kak?”
“Ada yang mau kubicarakan denganmu.” katanya dengan lembut.
“Tentang apa?”
“Tentang perasaanku kepada mu.”
Mendengar kalimat itu, jantungku terasa tak berdegup lagi. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya dapat terdiam seperti patung. Tapi akhirnya, Kak Ray mengagetkanku kembali.
“Hey, kok diam sih?”
“Mmm, nggak kok kak. Ada yang masih mau kakak katakan lagi?” tanyaku ragu.
Dia mengangguk pelan.
“Apa itu, kak? Katakan saja.”
 “Aku suka sama kamu semenjak melihatmu. Aku mau kamu yang selalu mewarnai hari-hariku. Aku mau kamu yang selalu berada di sampingku selamanya.” menarik napas sejenak. “Maukah kamu mewujudkan semuanya itu untukku?” lanjutnya  dengan tersenyum.
“Aku minta maaf, karena aku tak bisa menjawab pertanyaan kakak sekarang. Aku akan menjawabnya sepulang sekolah besok.”
“Baiklah, akan ku tunggu jawabanmu. Temui aku besok di bawah pohon dekat kelasmu.”
Aku mengangguk.
Tuhan, sekarang aku hanya ingin berada di suatu ruangan yang kosong dan berteriak keras menyebutkan namanya. Atau tidak cepatlah usir dirinya dari hadapanku sebelum aku terjatuh.
*****
        Semalaman aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkan jawaban yang harus ku katakan kepadanya besok. Aku memang menyukainya dirinya. Hingga aku memutuskan untuk tidak mengatakan “tidak”. Mudah-mudahan keputusan yang ku ambil ini benar.
*****
Bel pulang telah berbunyi. Semua anak mulai berhamburan dimana-mana. Jantungku kembali berdegup kencang. Lebih kencang dari pada ketika aku semalam bertemu dengannya. Aku harus menemuinya untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya.
Mulai ku langkahkan kakiku ke tempat itu, tempat yang akan ku kenang selamanya. Tempat yang akan menjadi sejarah cintaku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti di tengah perjalananku menuju tempat itu. Ternyata aku melihat dia bersama seorang perempuan yang sedang menangis. Perempuan yang sama sekali tak ku kenal. Dan aku tak tahu apa yang menyebabkan perempuan itu menangis. Aku pun melihat dia mengusap air mata yang membasahi pipi perempuan itu.
Ku lanjutkan langkahku agar aku lebih dekat dengan mereka, agar aku tahu apa yang menyebabkan perempuan itu menangis. Kini jarakku sangat dekat dengan mereka. Hingga aku pun dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Kamu tidak tahu betapa hancurnya hatiku, ketika aku tahu ternyata kamu mencintai dirinya.” kata perempuan itu.
“Apa yang harus ku lakukan untukmu?”
“Aku mau kamu mencintai diriku bukan dirinya.”
“Baiklah, tapi ada satu syarat untuk itu.”
“Apa itu?”
“Aku tidak mau melihatmu menangis seperti ini.”
“Aku janji untuk tidak menangis lagi, asalkan kamu hanya mencintaiku seorang.” kata perempuan itu dengan tersenyum.
Hatiku benar-benar terluka mendengar semua itu. Tak terasa air mataku telah membasahi pipi merahku ini. Hanya satu kalimat yang selalu berlalu-lalang di otakku. Kenapa harus dirinya yang menjadi milikmu?
Aku tak tahu apakah aku harus marah karena dia telah menyakitiku. Atau aku harus berterima kasih kepada dirinya karena dia telah mengajariku apa itu cinta.
*****
       Dulu, kamu adalah pelangi hatiku. Anugerah terindah yang dikirim Sang Maha Cinta untuk mengajariku sebutir kasih dan seuntai cinta yang bisa jadi luar biasa. Namun semuanya telah sirna. Hanya tinggal kenangan. Kenangan yang menyakitkan untuk diingat.
        Kini aku hanya seorang diri. Seorang yang telah kehilangan cintanya. Cinta tulus yang telah dikhianati.
Andai kamu tahu, aku menangis karena cintamu yang telah pergi. Cintamu yang membunuhku dan hanya menyisakan luka yang mendalam. Cinta yang dulu milikku tapi kini milik orang lain.
        Tapi, aku ingat bahwa orang yang terkuat bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.


~SELESAI~

No comments:

Post a Comment