Cinta, satu kata
penuh makna yang terkadang membawaku ikut terbuai olehnya. Perasaan yang muncul
begitu saja, sungguh membuatku tak percaya akan hadirnya cinta. Aku tahu usiaku
belum cukup untuk menyadari bahwa ada rasa cinta di hatiku. Tapi, aku tak dapat
menahan perasaan itu, apalagi untuk tidak memikirkannya.
Aku
memang sudah mengenalnya lama, sejak aku menjajaki pakaian putih biru. Dia
kakak kelasku, bahkan dia pernah menjadi mentorku. Perasaan itu muncul ketika
itu dan mulailah aku mengenalnya semakin mendalam. Dia tampan, baik hati,
perhatian, dan cowok yang sangat sederhana. Dia adalah Ray.
Aku
ingat ketika dia memanggilku “Pipit” bukan “Annisa”. Hanya karena badanku yang
kecil, dia memanggilku dengan sebutan itu.
Alasan yang tidak masuk akal tapi sangat membahagiakanku. Dan aku pun
ingat pertama kali aku dan dia berinteraksi. Semua ingatan itu, membuatku tak
bisa tidur.
*****
Ketika aku melamunkan
dirinya dan asyik menatapi langit-langit kamarku, aku tersontak kaget oleh
deringan handphoneku. Dengan cepat aku mengambilnya. Ternyata, Kak Ray lah yang
membangunkan handphoneku.
“Halo!”
jawabku dengan lembut.
“Halo
juga Pipit!”
“Ada apa, kak? Kok
tumben meneleponku, biasanya juga hanya sms. Hehehe…” kataku diikuti dengan
tertawa kecil.
“Boleh keluar
sebentar nggak, Pit?” tanyanya.
“Emangnya ada apa ngajakin
keluar malam-malam gini, kak?” kataku penasaran.
“Nanti kamu juga tahu
sendiri kok.”
“Baiklah, dimana
kakak mau bertemu denganku?” tanyaku.
“Di depan gang
rumahmu saja, mau kan?”
“ Iya, jam berapa?”
“Mmm.. Pokoknya kamu
tunggu saja, nanti kalau aku sudah sampai di depan gang rumahmu, aku akan
langsung memberi kabar.” jawabnya.
“Sipp deh kalau
gitu!”
“Oke, udah dulu ya?
Bye Pipit.”
“Iya, Bye kak.”
Setelah teleponnya
ditutup, aku terus menggenggam handphoneku. Jantungku mulai berdegup kencang
menunggu kabar darinya. Otakku terus berpikir, apa yang akan dia katakan
kepadaku? Baru kali ini, aku benar-benar gugup untuk bertemu dengannya.
Handphoneku
terbangun, pertanda ada pesan masuk. Ku buka pesan itu yang ternyata pesan dari
Kak Ray. Dia menyuruhku untuk cepat menghampirinya di depan gang rumahku. Aku
buru-buru berlonjak dari posisi dudukku dan berlari kecil menghampirinya.
Aku sekarang sudah
dapat melihat dia menungguku di sana. Langkahku kini melambat. Kakiku tak
sanggup untuk melangkah lagi. Jantungku berdegup semakin kencang. Tapi tanpa
disadari aku sudah berada di hadapannya.
“Hey!” sapanya dengan
senyuman menawan.
“Hey juga kak!”
balasku. “Ada apa menyuruhku datang ke sini, kak?”
“Ada yang mau
kubicarakan denganmu.” katanya dengan lembut.
“Tentang apa?”
“Tentang perasaanku kepada
mu.”
Mendengar kalimat
itu, jantungku terasa tak berdegup lagi. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku
hanya dapat terdiam seperti patung. Tapi akhirnya, Kak Ray mengagetkanku
kembali.
“Hey, kok diam sih?”
“Mmm, nggak kok kak.
Ada yang masih mau kakak katakan lagi?” tanyaku ragu.
Dia mengangguk pelan.
“Apa itu, kak?
Katakan saja.”
“Aku suka sama kamu semenjak melihatmu. Aku
mau kamu yang selalu mewarnai hari-hariku. Aku mau kamu yang selalu berada di
sampingku selamanya.” menarik napas sejenak. “Maukah kamu mewujudkan semuanya
itu untukku?” lanjutnya dengan
tersenyum.
“Aku minta maaf,
karena aku tak bisa menjawab pertanyaan kakak sekarang. Aku akan menjawabnya
sepulang sekolah besok.”
“Baiklah, akan ku
tunggu jawabanmu. Temui aku besok di bawah pohon dekat kelasmu.”
Aku mengangguk.
Tuhan, sekarang aku
hanya ingin berada di suatu ruangan yang kosong dan berteriak keras menyebutkan
namanya. Atau tidak cepatlah usir dirinya dari hadapanku sebelum aku terjatuh.
*****
Semalaman
aku tak bisa tidur. Aku terus memikirkan jawaban yang harus ku katakan
kepadanya besok. Aku memang menyukainya dirinya. Hingga aku memutuskan untuk
tidak mengatakan “tidak”. Mudah-mudahan keputusan yang ku ambil ini benar.
*****
Bel pulang telah
berbunyi. Semua anak mulai berhamburan dimana-mana. Jantungku kembali berdegup kencang.
Lebih kencang dari pada ketika aku semalam bertemu dengannya. Aku harus menemuinya
untuk memberikan jawaban dari pertanyaannya.
Mulai ku langkahkan
kakiku ke tempat itu, tempat yang akan ku kenang selamanya. Tempat yang akan
menjadi sejarah cintaku. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti di tengah
perjalananku menuju tempat itu. Ternyata aku melihat dia bersama seorang
perempuan yang sedang menangis. Perempuan yang sama sekali tak ku kenal. Dan aku
tak tahu apa yang menyebabkan perempuan itu menangis. Aku pun melihat dia mengusap
air mata yang membasahi pipi perempuan itu.
Ku lanjutkan
langkahku agar aku lebih dekat dengan mereka, agar aku tahu apa yang
menyebabkan perempuan itu menangis. Kini jarakku sangat dekat dengan mereka.
Hingga aku pun dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Kamu tidak tahu
betapa hancurnya hatiku, ketika aku tahu ternyata kamu mencintai dirinya.” kata
perempuan itu.
“Apa yang harus ku
lakukan untukmu?”
“Aku mau kamu
mencintai diriku bukan dirinya.”
“Baiklah, tapi ada
satu syarat untuk itu.”
“Apa itu?”
“Aku tidak mau
melihatmu menangis seperti ini.”
“Aku janji untuk
tidak menangis lagi, asalkan kamu hanya mencintaiku seorang.” kata perempuan
itu dengan tersenyum.
Hatiku benar-benar terluka
mendengar semua itu. Tak terasa air mataku telah membasahi pipi merahku ini. Hanya
satu kalimat yang selalu berlalu-lalang di otakku. Kenapa harus dirinya yang
menjadi milikmu?
Aku tak tahu apakah aku
harus marah karena dia telah menyakitiku. Atau aku harus berterima kasih kepada
dirinya karena dia telah mengajariku apa itu cinta.
*****
Dulu, kamu adalah pelangi hatiku. Anugerah
terindah yang dikirim Sang Maha Cinta untuk mengajariku sebutir kasih dan
seuntai cinta yang bisa jadi luar biasa. Namun semuanya telah sirna. Hanya
tinggal kenangan. Kenangan yang menyakitkan untuk diingat.
Kini
aku hanya seorang diri. Seorang yang telah kehilangan cintanya. Cinta tulus
yang telah dikhianati.
Andai kamu tahu, aku
menangis karena cintamu yang telah pergi. Cintamu yang membunuhku dan hanya
menyisakan luka yang mendalam. Cinta yang dulu milikku tapi kini milik orang
lain.
Tapi,
aku ingat bahwa orang yang terkuat bukan mereka yang selalu menang. Melainkan
mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
~SELESAI~
No comments:
Post a Comment